KONSEP HIDUP DALAM ISLAM

Dosen Pemangku
Ida Windi Wahyuni, S.Ag, M.si
OLEH :
KELOMPOK 8
1.
FAJRI SYEFRINGGA NPM. 143110494
2.
RAHMATUL FAKHLIL NPM.
143110319
3.
VICKY FANDRA WIJAYA NPM. 143110490
KELAS IC
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah kesehatan, pemikiran,
dan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah
ini disusun sesuai dengan materi mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang sedang penulis pelajari, yaitu Konsep Hidup Dalam Islam, yang juga
merupakan tugas kelompok dari dosen mata kuliah.
Dalam
pelaksanaannya, penulis melakukan pencarian sumber melalui studi pustaka dan
menjelajahi website-website di internet. Yang dirangkum menjadi sebuah makalah.
Seperti
pepatah lama “tidak ada gading yang tak retak”, demikian juga dalam hal
penyusunan makalah ini, penulis masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah selanjutnya.
Semoga
makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi pembacanya. Untuk itu
penulis ucapkan terima kasih.
Pekanbaru, September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………….…….…………………………………………… i
DAFTAR ISI……………..………….…………………………………………….
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…….………….….……….……………………………………..1
B. Rumusan Masalah ….………….…….………………………………………….2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Hidup…………………...…………………………………………...3
A. Latar Belakang…….………….….……….……………………………………..1
B. Rumusan Masalah ….………….…….………………………………………….2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Hidup…………………...…………………………………………...3
B. Konsep Hidup Dalam Islam……………………………………………….…….4
C. Makna Hidup…………………………...……………………………….………8
D. Tujuan Hidup………………………………...…………………………….......11
BAB III PENUTUP
1.
Kesimpulan…………………………..…………………………………………14
2. Saran……………………………………..……………………………………..14
2. Saran……………………………………..……………………………………..14
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….15
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak persoalan dan masalah yang harus
kita hadapi dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Masalah yang menimpa
kita dapat berupa masalah keluarga, sosial, politik, harta, dan lain
sebagainya. Kita tidak dapat menghindar dari semua persoalan tersebut karena
kita telah terlanjur diciptakan untuk menghadapi hidup ini. Semua persoalan
tersebut mungkin akan membuat kita berfikir apa arti dan tujuan dari hidup
ini hingga membuaat kita harus
berhadapan dengan banyak masalah. Orang yang tidak mampu mengatasinya dan
tidak dapat menemukan jawaban dari apa hakikat hidup ini bisa-bisa menjadi
depresi, strees, gila, bahkan kadang nekat mengakhiri hidupnya sendiri.
Berbagai macam ajaran mengenai hakikat
hidup dan tujuannya telah berkembang. Masing-masing berbeda dalam pengertian
dan tujuannya. Diantaranya adalah orang-orang atheis yang mengatakan bahwa
hidup hanyalah sebagai kelanjutan dari hukum evolusi yang selalu mengalami
perubahan alamiah. Teori evolusi sendiri bermasalah, karena dalam teori
tersebut terjadi banyak benturan (dead
lock) dalam analisa dan teorinya. Benturan tersebut mereka namakan dengan missing link. Mereka berpendapat hidup
ini akan musnah dengan sendirinya sesuai dengan habisnya alat kebutuhan hidup
dan terganggunya stabilitas susunan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa
hidup ini bemula dari kekosongan, kemudian terwujud secara alamiah, dan sedang
menuju ke arah kekosongan kembali di mana setiap individu akan musnah tidak
berbekas dan tidak akan bangkit lagi. Jika memang seperti itu,
alangkah sia-sia dan tidak bergunanya hidup ini. Karena itu sama saja
mengatakan bahwa hidup ini tanpa tujuan.
Bagi kaum muslimin, mereka mempercayai bahwa Allah itu ada. Allah
adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada makhluknya. Oleh karena itu Allah menurunkan agama Islam dan mengutus
para utusan untuk menyampaikannya kepada manusia sehingga mereka
tahu apa hakikat dan tujuan dari hidup ini sebenarnya.
B. Rumusan Masalah
Dari
uraian yang telah dipaparkan di atas dapat diambil beberapa pokok masalah. Adapun masalah yang akan dibahas
adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian hidup ?
2.
Bagaimana konsep hidup dalam islam ?
3.
Apa makna hidup ?
4.
Apa tujuan hidup ?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1.
Mahasiswa mampu untuk mengetahui pengertian
hidup.
2.
Mahasiswa mampu untuk mengetahui konsep hidup dalam islam.
3.
Mahasiswa mampu untuk mengetahui makna
hidup.
4.
Mahasiswa mampu untuk mengetahui tujuan
hidup.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hidup
Sebelum kita membicarakan apa itu hidup, ada baiknya kita singgung
sedikit mengenai mati dan tak hidup. Kalau suatu hal dikatakan “mati”,
maka hal yang mati itu pernah hidup. Akan tetapi bila sesuatu itu dikatakan
“tak hidup” berarti ia tidak pernah hidup. Lalu apakah hidup itu?
Beberapa sifat dikemukakan orang sebagai ciri khas untuk
hal-hal yang hidup, antara lain : hidup dapat bertindak ke
dalam. Maksudnya yang hidup itudapat bertindak untuk dirinya sendiri, jadi
subjek tindakan dapat merupakan objek tindakan itu sendiri. Misalnya pohon
tumbuh, yang bertindak adalah pohon itu dan yang menjadi lebih besar adalah
pohon itu juga. Pohon tumbuh mengambil
hal-hal yang baik bagi hidup dan membuang hal yang tidak baik. Ia
menyesuaikan diri dengan lingkungan, melindungi diri, dan berkembangbiak.
Dengan singkat Herbert Spencer mendefinisikan hidup: “the continousadjustment of internal to external conditions.” Akan
tetapi hal itu tidak menjawab definisi hidup, tapi hanya menggambarkan
ciri-ciri makhluk hidup.
Hamka menjelaskan bahwa mungkin orang memberikan jawaban dengan
mengatakan segala yang hidup itu, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan
manusia adalah susunan sel. Dan setiap sel adalah susunan kimia dari karbon,
hidrogen, dan oksigen, dan nitrogen. Kalau anasir telah tersusun menurut
keadaan tertentu, terciptalah sel. Akan tetapi ketika anasir telah tersusun
menurut ukuran dan kondisi tertentu, dapatkah kita memberinya hidup? Sampai sekarang para ahli pun sukar
merumuskan apa itu hidup. Meskipun ada yang mencoba, tetapi banyak yang tidak
menyetujuinya. Kemampuan manusia hanya sampai pada sekitar benda. Antara anasir
benda dan anasir hidup terdapat jurang yang sangat dalam, yang tidak dapat
diseberangi oleh ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat73
:

B. Konsep Hidup Dalam
Islam
Pandangan seseorang tentang hidup mencerminkan keyakinannya atas kehidupan.
Orang yang memandang hidup adalah perjuangan akan melihat hidup
adalah perjuangan yang harus diperjuangkan. Maka hidupnya akan dijalani dengan
berjuang. Sedangkan orang yang memandang hidup adalah tantangan, akan melihat bahwa hidup yang dijalaninya adalah tantangan
yang harus dipecahkan. Konsep hidup dalam Islam dapat kita cari dalam
al-Qur’an. Allahberfirman dalam surat al-An’am ayat 32:

Artinya: “ Dan Tiadalah
kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh
kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa hidup tidak lain hanyalah
permainan dan sendau gurau belaka. Kata (
)
yang biasanya diterjemahkan permainan digunakan oleh al-Qur‟an dalam arti suatu
perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya bukan untuk suatu tujuan yang
wajar dalam arti membawa manfaat atau mencegah mudharat. Sedangkan ( )
adalah suatu perbuatan yangmengakibatkan kelengahan pelakunya dari pekerjaan
yang bermanfaat atau lebih penting dari pada yang dilakukannya itu.

Kehidupan dunia bukan hanya la’ib dan lahwu saja, dalam surat al-Hadid ayat 20 Allah berfirman:
Artinya: “Ketahuilah,
bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antarakamu serta
berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak ...”
Jadi yang dinamakan kehidupan dunia adalah
permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, saling membanggakan diri, dan
berbangga-bangga dalam memperbanyak harta dan anak. Quraish Shihab dalam tafsir
al-Mishbah menjelaskan bahwa sementara ulama memahami ayat di atas dalam arti
penilaian al-Qur’an tentang aktivitas kehidupan dunia tanpa melihat apakah ini
dalam pandangan orang kafir atau muslim. Penganut paham ini ada yang mendorong
agar kehidupan dunia ditinggalkan sama sekali, karena hakikatnya tidak lain
kecuali permainan dan kelengahan.

Akan tetapi menurut pemahaman beliau, ayat ini menguraikan makna kehidupan bagi orang-orang kafir. Mereka meyakini hidup duniawi adalah hidup satu-satunya, sebagaimana dalam surat al-Jatsiyah ayat 24:
Artinya: “Dan mereka
berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupandi dunia saja, kita
mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakankita selain masa"
Sehingga mereka hidup di dunia tidak lain kecuali permainan dan
kesenangan bagi mereka.

Bagi orang yang percaya adanya hidup sesudah kehidupan dunia ini, kehidupan dunia adalah perjuangan untuk meraih kesejahteraan lahir dan batin, dunia, dan akhirat. Karena apa yang diperoleh di akhirat diukur dengan apa yang ada di dunia ini, maka kehidupan dunia sangat berharga. Allah berfirman dalam surat al-Qashash ayat 77:
Artinya: “Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Karena itu ayat dalam surat al-An’am dan al-Hadid di
atas bukannya berbicara tentang kehidupan dunia bagi semua manusia, tetapi
menggambarkan bagaimana kehidupan dunia dalam pandangan, sikap dan
perilaku orang-orang kafir. Ayat 32 surat al-An’am di atas menggunakan
redaksi tidak lain yang mengandung makna pembatasan, sehingga
bila merujuk ke redaksi ayat, maka selain yang disebut oleh redaksinya, bukan
merupakan bagian dari kehidupan dunia. Menyadari bahwa banyak hal dalam
kehidupan dunia ini selain kedua hal yang disebut di atas, seperti penyakit,
makan dan minum, maka tentu saja kata
tidak lain dimaksudkan
untuk penekanan bahwa hal-hal itulah yang terpenting dalam pandangan
orang-orang kafir.

Yusuf Qardhawi memberikan penjelasan bahwa dalam Islam ada konsep istikhlaf, yaitu apa yang dimiliki manusia hanyalah titipan Allah.Dasarnya ada pada surat an-Najm ayat 31:
Artinya: “Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi”
Semua yang ada di dunia
ini adalah milik Allah, termasuk tubuh dan hidup kita. Hidup ini adalah titipan
dan amanah. Sehingga kita nanti akan mempertanggung jawabkannya di hadapan
Allah. Karena hanya kepada-Nya lah kita nanti akan dikembalikan. Hidup di
dunia ini bukan maya. Hidup dan dunia itu adalah nyata dan positif. Oleh karena
itu hidup dan dunia harus dipergunakan. Menurut ulama salaf, bahwa hidup itu
adalah untuk hidup dan mati, dan dunia itu adalah untuk dunia sekaligus juga
untuk akhirat.
لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ
دُنْيَاهُ لِاخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّى يُصِيْبُ
مِنْهُمَاجَمِيْعًا فَاِنَّ الدَّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى
اْلاخِرَةِ وَلَاتَكُوْنُوْا كَلًّ عَلَى النَّاسِ
Artinya : “Tidaklah
orang yang terbaik di antaramu yang meninggalkan dunia
karena urusan akhirat
dan tidak pula orang yang meninggalkan akhirat lantaran dunia sehingga ia memperoleh
kedua-duanya”. (H.R. Ibnu Asakir)
Ada konsep lain yang
menarik untuk dikemukakan di sini. Ayat di atas menyatakan bahwa hidup di dunia
tidak lain hanyalah permainan. Pemahaman dari ayat tersebut adalah bahwa
hidup adalah permainan yang jangka waktunya pendek, maka dari itu kita harus
jadi pemain dari “permainan kehidupan”, bukan hanya main-main. Pemain adalah
orang yang memainkan permainan dengan sungguh-sungguh dan mematuhi peraturan
yang berlaku. Contoh: pemain sepak bola, mereka yang serius dan sungguh-sungguh
memainkannya akan mematuhi peraturan-peraturannya. Lalu apa hasil dari pemain
yang sungguh-sungguh? Coba kita lihat apa yang telah diraih oleh
Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan David Becham. Mereka adalah para pemain yang
sungguh-sungguh. Begitu pula dalam permainan kehidupan ini, kita harus menjadi
pemain yang serius dan sungguh-sungguh. Bisa bayangkan
apa yang akan Allah
berikan jika kita menjadi “pemain” dari permainan besar
kehidupan?
C. Makna Hidup
Untuk mengetahui makna
dari kehidupan ini, kita harus tahu untuk apa kita hidup di dunia. Dalam
al-Qur’an menjelaskan bahwa ada dua jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pertama, manusia diciptakan di dunia ini untuk menjadi khalifah di bumi.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah
ayat 30 :

Artinya: Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal
Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya
aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam tafsir al-Mishbah
dijelaskan bahwa kata Khalifah pada mulanya berarti
yang menggantikan atau yang datang
sesudah siapa yang dating sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami
kata khalifah sebagai pangganti Allah dalam menegakkan kehendaknya
dan menerapkan ketetapan-Nya, tapi bukan berarti Allah tidak mampu atau
menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun untuk menguji manusia dan
member penghormatan. Ada pula yang memahami sebagai pengganti makhluk lain
dalam menghuni bumi.
Dengan demikian, kakhalifahan mengharuskan
makhluk yang diberi tugas itu melaksanakannya sesuai dengan petunjuk
Allah yang memberi tugas dan wewenang. Kebijakasanaan yang tidak sesuai
dengan kehendak-Nya adalah
pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.
Dari ayat tersebut dapat
kita ketahui manusia diciptakan untuk mensejahterakan, memperbaiki keadaan dan
menguasai bumi. Untuk itu Allah telah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi
untuk kepentingan manusia sebagai bekalnya. Selain itu ia juga dibekali
dengan kemampuan untuk mengenal dan
mengetahui segala yang ada di bumi.
Kedua, manusia diciptakan untuk beribadah kepada
Allah. Dalam surat adz-Dzariyat ayat 56 dijelaskan:
Artinya: “Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Ayat di atas dengan jelas
menerangkan bahwa manusia diciptakan tidak lain untuk menyembah dan berbakti
kepada Allah. Menyembah dan berbakti kepada Allah itulah tujuan hidup kita di
dunia.
Thabathabai, seperti dikutip
oleh Quraish Shihab, menafsirkan lam
pada ayat di atas dengan arti agar supaya, yakni tujuan penciptaan manusia dan
jin adalah untuk beribadah. Akan tetapi tujuan disini bukan tujuan
yang bermakna untuk menyempurnakan yang
belum sempurna atau menanggulangi kebutuhan atau kekurangannya, karena
hal itu mustahil bagi Allah. Ada tujuan bagi Allah dalam perbuatan-Nya,
tetapi dalam diri-Nya, bukan di luar dzat-Nya. Dan ada tujuan yang bertujuan
kepada perbuatan itu sendiri yakni kesempurnaan perbuatan. Ibadah adalah tujuan
dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan itu.
Allah menciptakan manusia untuk memberinya ganjaran; yang memperoleh ganjaran
adalah manusia, sedang Allah sama sekali tidak membutuhkannya. Adapun tujuan
Allah, maka itu berkaitan dengan dzat-Nya Yang Maha Tinggi. Dia menciptakan
manusia dan jin karena Dia adalah dzat Yang Maha Tinggi.
Quraish Shihab
juga mengutip dari Sayyid Quthub yang menafsirkan bahwa ayat di atas membuka
banyak sisi dan aneka sudut dari makna dan tujuan. Sisi pertama bahwa
hakekatnya ada tujuan tertentu dari wujud manusia dan jin, ia merupakan satu
tugas. Siapa yang melaksanakannya maka ia telah mewujudkan tujuan
wujudnya, dan siapa yang mengabaikannya maka dia telah membatalkan hakekat
wujudnya dan menjadilah ia seorang yang tidak memiliki tugas, hidupnya
kosong tidak bertujuan dan berakhir dengan kehampaan. Tugas tersebut adalah
ibadah kepada Allah yakni penghambaan diri kepada-Nya. Sisi lain adalah pengertian
ibadah bukan hanya terbatas pada pelaksanaan tuntunan ritual, karena jin dan
manusia tidak menghabiskan waktu mereka dalam pelaksanaan ibadah ritual. Dia
mewajikan kepada mereka aneka kegiatan lain yang menyita sebagian besar hidup
mereka. Kita dapat mengetahui batas aktivitas yang diwajibkan kepada manusia,
yaitu seperti yang dijelaskan al-Qur’an sebagai khalifah di bumi. Ini menuntut
ragam aktivitas penting untuk memakmurkan bumi. Kekalifahan juga menuntut upaya
penegakan syari’at Allah di bumi juga mewujudkan system Ilahi yang sejalan
dengan hukum-hukum Ilahi yang ditetapkannya bagi alamini. Dengan demikian
ibadah mencakup dua hal pokok yaitu dalam bentuk ritual dan tugas
kekhalifahan.
Dari uraian di atas
dapat kita pahami bahwa makna hidup ini adalah ibadah. Ibadah adalah tujuan
dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada manusia itu
sendiri. Ibadah adalah tugas manusia di bumi, orang yang tidak mempunyai tugas
hidupnya kosong tidak bertujuan. Dengan kata lain tanpa ibadah hidup manusia
menjadi kosong dan tidak bermakana. Ibadah mencakup dua hal pokok yakni ibadah
dalam bentuk ritual dan bentuk tugas kekhalifahan. Maka jika kita ingin
hidup ini bermakna kita harus beribadah. Ibadah bukan hanya sekadar ketaatan
dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang
mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap
siapa ia mengabdi, demikianlah Syeikh Muhammad Abduh menjelaskan ibadah
sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab.
D. Tujuan Hidup
Kita tidak hidup di
dunia untuk selamanya, karena kita semuanya nantinya
akan
mati. Allah telah
berfrman dalam surat Ali ‘Imran ayat 185:

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Lalu ke mana kita akan
pergi setelah kita mati? Pertanyaan ini telah dijawaboleh al-
Qur’an. Allah telah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 156:
Artinya: “Sesungguhnya
Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.”
Matinya manusia itu
kembali kepada Allah, dan besok seluruh alam ini termasuk di dalamnya manusia
akan dibangkitkan dari kuburnya kalau sudah mendapat izin dari-Nya, semua alam,
bumi, gunung akan hancur dan menurut perintahnya.

Kita hidup di dunia adalah untuk mendapatkan maghfirah dan ridha Allah di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hadid ayat20:
Artinya: “Dan di akhirat
(nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Quraish Shihab
mengatakan bahwa menurut Thabathaba’I didahulukannya
maghfirah
atas ridhwan agar wadah keridhaan itu bersih terlebih dahulu, agar
dapat menampung ridha-Nya. Bagaimana mungkin ridha diperoleh kalau masih
ada ketidakharmonisan dalam jiwa. Ketidakharmonisan akan lenyap jika
kesalahan telah dihapus. Ayat di atas mensifati maghfirah tersebut bersumber dari Allah, tetapi adzab tidak
disifati-Nya dengan sesuatu apapun. Ini sejalan dengan kebiasaan al-qur’an menisbahkan yang baik dan positif
kepada Allah, sedang yang buruk tidak dinisbahkan kepada-Nya. Thabathaba‟i
memahaminya sebagai isyarat bahwa yang terutama didambakan adalah maghfirah,
sedang siksa tidaklah demikian, karena siksa merupakan akibat keengganan
manusia untuk taat kepada Allah. Penyebutan maghfirah
dan siksa pada penggalan akhir ayat di atas adalah gambaran dari dua wajah akhirat. Itu dikemukakan agar orang
hendaknya memilih maghfirah dan ridha bukan memilih siksa.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uraian yang telah
dibahas di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan :
1.
Bagi orang kafir hidup adalah permainan, suatu
yang melalaikan,perhiasan, saling membanggakan diri, dan berbangga-bangga dalam
memperbanyak harta dan anak.
2.
Bagi orang yang percaya adanya hidup sesudah
kehidupan dunia ini, kehidupan dunia adalah perjuangan untuk meraih
kesejahteraan lahir dan batin, dunia, dan akhirat.
3.
Hidup ini adalah titipan dan amanah karena semua
yang ada di dunia ini adalah milik Allah, termasuk tubuh dan hidup kita dan
nanti akan mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah.
4.
Ibadah adalah tugas manusia di bumi, orang yang
tidak mempunyai tugas hidupnya akan kosong tidak bertujuan dan tidak
bermakna.
5.
Ibadah mencakup dua hal
pokok yakni ibadah dalam bentuk ritual dan bentuk tugas
kekhalifahan.
6.
Semua manusia nantinya akan kembali kepada
Allah, dan tujuan hidup didunia adalah untuk mendapatkan maghfirah dan ridha
Allah di akhirat kelak.
2. Saran
Pada pembuatan makalah ini, masih banyak hal-hal yabg
belum terpenuhi. Bagi yang membaca makalah ini semoga dapat menjadi tambahan
referensi dan tambahan ilmu bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Filsafat Ketuhanan, C. V. Karunia, Surabaya, 1985
http://fikrirasyid.com/apa-arti-kehidupan-sebenarnya-hidup-adalah-permainan- jadilah-pemain-kehidupan/, senin 22 sep 2012, jam 12.49
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/pengertian-hidup-menurut-al-qur-an-t10847/, senin 22 sep 2012 jam
12.50
I. R.
Poedjawijatna, Manusia Dengan
Alamnya (Filsafat Manusia), Bina
Aksara, Jakarta, 1987
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Pesan, Kesan dan
Keserasian al-
Qur’an, Jilid 4, Lentera
Hati, Jakarta, 2002
Maftuh Ahnan, Filsafat Manusia, C.V. Bintang Pelajar
Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Gema
Insani Press, Jakarta,1997

0 komentar:
Posting Komentar